Searching...

Popular Posts

Selasa, 31 Agustus 2010

Pesantren Waria di Yogyakarta

Pesantren Waria di Yogyakarta. Dalam kehidupan ada sebuah komunitas yang terkadang keberadaannya dibenci masyarakat disekitarnya, yaitu Waria. Sebenarnya Waria ini memiliki jenis kelamin laki-laki, tapi karena sesuatu hal ataukah mungkin penyakit sehingga mereka menganggap dirinya sebagai wanita. Tapi kali ini kita tidak akan membahas mengenai status jenis kelamin, melainkan kegiatan komunitas ini di sebuah pondok Pesantren Waria di Yogyakarta.

Pondok Pesantren Waria ini tepatnya berlokasi di Kampung Notoyudan, Gedong Tengen, Yogyakarta. Ponpes Waria hanya memanfaatkan ruangan di rumah kontrakan yang berdempetan dengan salon. Ruangannya pun berukuran sederhana 6 x 2,5 meter menjadi tempat kegiatan para santri, buka bersama, salat berjamaah, tadarus, pengajian hingga belajar mengaji.



Pesantren ini didirikan oleh Maryani, 50 tahun. Sebagai bentuk perhatian terhadap teman-teman Warianya agar lebih mendekatkan dirinya terhadap sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Mariyani sendiri telah mendalami Ilmu agama Islam di pengajian Kyai Hamroeli H, di daerah Samben, Kemusuk, Godean, Sleman.

Dengan aktif di pengajian pendiri Pondok Pesantren Waria di Yogyakarta Maryani tergerak untuk mengubah kebiasaan hidpnya. Berhenti dengan nikmatnya kehidupan malam, dan mulai menekuni Salon. Penghasilan yang diperoleh dari Salon itu yang digunakan untuk medirikan pesantren Waria.

Untuk sementara santri berjumlah 20 orang Waria. Terdiri dari pengamen, pegawai salon dan waria yang masih menggeluti kehidupan malam. Santri Ponpes sendiri berasal dari berbagai daerah, diantaranya Malang, Surabaya, Palembang, Medan, Bengkulu dan Yogyakarta.

Perlengkapan Saat Shalat santri Pesantren Waria dibebaskan memakai mukena atau sarung tambah peci. Seperti biasa, barisan depan yang menggunakan sarung dan di bagian belakang yang menggunakan mukena.

"Waria itu juga manusia dan memiliki kewajiban melakukan ibadah kepada Allah. Apakah waria itu penyakit, saya tidak menghiraukan. Yang penting saya beribadah kepada Allah.", ujar Maryani.

Berikut video aktifitas di Pesantren Waria Yogyakarta, yang diembed dari YouTube.

0 komentar:

Posting Komentar