Searching...

Popular Posts

Kamis, 01 Oktober 2009

KEPEMIMPINAN FORMAL ATAU INFORMAL

KEPEMIMPINAN FORMAL ATAU INFORMAL " Mau minum madu, tapi yang terminum bisa racun". Inilah kalimat ungkapan para pemimpin saat mengalami guncangan organisasi yang melanda perusahaannya. Ternyata bermodal niat baik tak cukup untuk melakukan perubahan dalam perusahaan. Ungkapan madu dan racun menggambarkan sisi gelap manajemen perubahan. Ingin mencapai satu kemajuan, akan tetapi hasilnya dua kemunduran. Hal tersebut memacu banyaknya perusahaan yang memperbaiki sistem, baik sistem penggajian, pengawasan, koordinasi, namun tidak bergerak atau hanya bergerak sedikit ke target produktivitas. Sebenarnya inti permasalahan bukan disitu, dimana kita hanya menitik beratkan pada sisi formal organisasi, padahal terdapat sisi informal yang sangat penting dalam dinamika organisasi. Dimensi informal organisasi sangat penting peranannya. Banyak upaya-upaya pengembangan organisasi (organizational development) yang berhenti melakukan pembenahan sistem, struktur dan strategi yang mewakili aspek formal organisasi. Stagnasi mencuat saat berhadapan dengan aspek-aspek informal yang tidak diperhitungkan, seperti pemimpin informal, pendekatan informal, dan jalur informal. Kepemimpinan informal memiliki peranan penting, karena tidak selalu pemimpin formal organisasi mesti diikuti. Seorang pemimpin mempunyai strategi pendekatan informal yang sering berhasil. Pemimpin tersebut tidak terlalu menggantungkan perubahan dalam organisasi sepenuhnya pada pertemuan formal, seperti meeting. Sebelum melakukan pertemuan formal, selalu dilakukan pendekatan terlebih dahulu agar perbedaan pendapat dan diskusi dapat terselesaikan sebelum dilakukannya meeting. Selanjutnya, pertemuan formal berfungsi sebagai ruang untuk menyatukan dan menyampaikan ide perubahan tersebut. Begitupun halnya dengan jalur informal, dimana pemimpin jarang mengemukakan ide perubahan sebelum jalur informal ditata dengan rapi. Jika ditanya mengenai rahasia memilih pemimpin, sebuah organisasi (perusahaan) yang tumbuh pesat menampakkan bahwa perusahaan tersebut kurang menggantungkan diri pada media formal yang canggih, justru memberi perhatian lebih kepada kelompok pinggiran organisasi. Mereka yang muncul secara alami kepada kelompok pinggiran yang memiliki prestasi baik dan diberi penghargaan, seperti kenaikan tingkat/jabatan. Kondisi seperti ini, memungkinkan pemimpin formal sama dengan pemimpin informal. Dengan status itu akan banyak perbaikan yang berjalan mulus dan tertata rapi. Berdasarkan kejadian di atas, maka penggunaan manajemen pusat-pusat kekuasaan pada pengembangan organisasi sangat dibutuhkan untuk menjadi titik sentral. Ini disebabkan karena kegagalan manajemen pusat-pusat kekuasaan hanya akan membuat perubahan berhenti. Pasti anda masih ingat, bagaimana pemerintah Indonesia terdahulu berhasil menjadikan PANCASILA sebagai satu-satunya ASAS NEGARA melalui pendekatan-pendekatan kepada para kiai, ulama dan pemimpin informal lainnya. Jadi, apakah tipe pemimpin informal dibutuhkan untuk melakukan perubahan ke arah perbaikan? atau dibutuhkan untuk membuat organisasi tumbuh pesat?

0 komentar:

Posting Komentar